Tentang reviewer top dan reviewer sorry to say

Sekitar dua bulan lalu, seorang kolega dari distributor produk hardware komputer melontarkan istilah gelar “reviewer top” dan “reviewer sorry to say” kepada rekan saya. Gelar itu merujuk pada kritiknya terhadap sebagian besar reviewer kekinian di YouTube yang intinya adalah enggak punya kapabilitas mumpuni untuk ngomong soal produl tertentu yang mereka review. Bagi kawan yang sudah saya kenal sejak lama walau dari jauh itu, hanya ada satu situs review di Indonesia.

Saat mendengar itu saya hanya mantuk-mantuk merenungi, mengamini, dan berkata: hmmm…yaaa…yaaa…yaaa, kemudian nyeruput kopi. Usai merenungi selama sekitar dua minggu, saya pun lupa karena masih banyak kesibukan lainnya. Hari ini, hasil renungan tersebut kembali menyembul dari balik memory saya setelah membaca sendiri sang kawan menulis gelar “reviewer top” dan “reviewer sorry to say” di jejaring soaial.

Jika dilihat lebih jauh dan dengan kepala jernih, gelar yang tidak membanggakan tersebut (siapa mau dianugerahi reviewer sorry to say??), sebenarnya berangkat dari seseorang yang punya pengetahuan teknis cukup dan karenanya pula, punya ekspektasi tinggi terhadap seorang reviewer. Bisa diduga, dia berharap minimal reviewer sorry to say itu semestinya minimal sama pintarnya dengan dia, dan akan lebih baik kalau lebih pintar dari dia.

Well, enggak apa-apa juga sih berharap begitu. Toh, namanya juga harapan. Tapi begini, saudara-saudara.

Dalam buku “The One Device: The secret history of the iPhone”, kita jadi tahu bahwa ternyata ada dua tim yang berlomba membuat desain final iPhone untuk mendapat persetujuan mendiang Steve Jobs. Tim pertama dipimpin Tony Fadell yang sebelumnya sukses membuat iPod (mereka hendak bikin iPhone berdasarkan desain iPod). Tim kedua dipimpin Scott Forstall yang berambisi membuat iPhone berbasis OS X. Pemenangnya tim Forstall. Kedua tim ini berisi engineer brilian, mungkin juga masuk kategori terbaik di bidang yang digelutinya.

Intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa Steve Jobs –menurut Steve Wozniak punya kemampuan teknis biasa-biasa saja, dan menurut Eric Schmidt pernah kurang tepat namun sangat meyakinkan ketika presentasi soal Objective C– sudah terbiasa berhadapan dengan enginner yang kemampuan teknisnya jauh di atas dia.

Namun, apa yang terjadi ketika Apple akan memasarkan iPhone kepada dunia? Apakah Steve Jobs mengirim iPhone kepada reviewer top atau reviewer sorry to say?

Apa sih artinya reviewer top dan reviewer sorry to say?

Itu tadi: kemampuan atau pemahaman secara teknis dan mendalam ihwal bagaimana cara kerja dari suatu produk.

Kalau demikian adanya, mestinya Jobs hanya mengirimkan iPhone kepada engineer saja.

Kembali ke pertanyaan tadi, jawabannya adalah iPhone generasi pertama hanya dikirimkan Apple kepada 4 reviewer saja, salah satunya adalah Walt Mossberg yang ketika itu punya kolom Personal Technology di The Wall Street Journal. Apa hebatnya orang-orang ini?

Anda bisa baca sendiri kolom Walt Mossberg. Orangnya masih hidup dan aktif berkarya. Menurut saya, kalau ukurannya adalah hal-hal teknis, Mossberg masuk kategori reviewer sorry to say. Tapi, dunia akan menertawakan kita kalau berani menyebut dia demikian.

Secara pribadi, saya menganggap enggak ada kasta dalam dunia review. Hanya karena sesorang ahli sekali dalam hal teknis hardware, misalnya, bukan berarti dia lebih top dibanding orang yang “tahunya cuma make doang”. Mekanik bengkel Honda belum tentu lebih baik dari Raditya Dika dalam mereview Honda Civic Type R.

Mengapa? Karena review teknis memang berbeda dengam review pengalaman penggunaan. Walaupun, lumrah saja jika keduanya beririsan. Mossberg mewakili masyarakat awam –jumlahnya mayoritas dan juga menjadi target dari semua produk– dengan membuat review sesederhana mungkin, minim hal teknis dan dominan pengalaman penggunaan (bahkan ketika membandingkan Windows dan OS X).

Bukankah Apple juga jarang sekali menonjolkan hal teknis dalam presentasi produk dan lebih fokus menekankan pada aspek “apa yang bisa Anda lakukan dengan fitur ini” ?? Artinya, pengalaman penggunaan konsumen secara umumlah yang pada akhirnya yang paling penting.

Demikian juga pada kasus reviewer top dan reviewer sorry to say tadi. Kalau konteksnya adalah menyangkut teknis vs pengalaman penggunaan, menurut saya istilah itu enggak relevan. Tetapiiii…jika reviewer sorry to say merujuk pada orang yang kelihatannya ngerti teknis, menjelaskan hal teknis secara keliru, saya setuju atas kritik itu. Walaupun bukan berarti semua orang harus paham hal teknis untuk disebut sebagai reviewer top.

Ingat, Apple Watch generasi pertama justru banyak direview cewek-cewek yang biasa pegang alat make up dan merek fashion ternama, bukan cowok yang biasa pegang obeng untuk membongkar jam tangan. Apakah keduanya berada pada kasta berbeda? No. Mereka hanya hidup di komunitas yang berbeda saja.

So, sebelum saudara-saudara tertidur membacanya, saya hanya ingin mengatakan: semua reviewer itu unik. Skill amatir, pro dan advance itu penting enggak penting dalam konteks pengalamaan penggunaan. Sebab, pembuat produk paling pintar sekalipun pasti ingin produknya bisa digunakan dumb people. Karenanya, semua opini jadi berharga.

Jika saudara kebetulan melihat channel reviewer, lalu dalam hati berkata “apaan sih ni”, solusinya gampang: anggap saja dia enggak cocok ngomong kepada manusia pintar seperti Anda. Anda bisa mencari channel lain yang lebih klop. Gitu aja kok repot.

NB: Foto enggak ada kaitannya dengan artikel. Kebetulan saja saya lihat mobil Infinity itu di jalan dan pengin motret dari atas ojek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s