Dilema portal berita: menjadi besar atau menjadi berpengaruh?

“Berapa peringkat situs loe di Alexa?” Itu adalah salah satu pertanyaan favorit teman-teman dari agency periklanan kepada sales media.

Dan, jika pencapaian revenue jauh dari target, sales akan menjadikan pertanyaan tadi sebagai perisai untuk membela diri. “Susah jualannya, peringkat kita jeblok di Alexa. Redaksi gimana sih?”

Itu artinya, kesalahan jadi dilimpahkan ke redaksi. Sebab, redaksilah yang bertanggungjawab untuk memproduksi konten. Jika konten bagus, maka pembaca akan tertarik, sehingga peringkat situs tersebut juga otomatis melejit di Alexa.

Kita yang sudah lama menggeluti bisnis media online biasanya menyebut kondisi ini sebagai lingkaran setan, atau dilema ayam dan telur. Berdasarkan pengalaman pribadi, redaksi yang merasa dipojokkan akan menjawab begini: “ Oke, loe mau traffic berapa? gampang, gue bisa kasih. Caranya, gue akan banjiri portal kita dengan berita seks, mistik, gosip perselingkuhan atau artis. Gampang kan?”

Mendapat pertanyaan semacam itu, sales biasanya geleng-geleng. Mereka juga tahu, situs berita yang populer saja tidaklah cukup untuk memutar roda bisnis. Gampangnya begini, produsen BMW tidak akan memasang iklan di situs berita yang kebanyakan isinya mesum. Pembaca besar tapi enggak mutu tentu enggak menarik bagi pengiklan. Mereka butuh pembaca yang tepat, yang mampu dan mau membeli produk mereka.

Bermain konten mesum atau nyrempet-nyrempet mesum sudah pasti akan mendongkrak jumlah pembaca karena pada dasarnya semua manusia memang suka kemesuman. Konon, situs pornografi menguasai 30 persen traffic internet dunia.

Jadi, gimana dong? Bisa enggak kontennya positif tapi laris dan peringkatnya terus naik di Alexa?

Kondisi ideal tentu saja adalah, ada konten bermutu, serius, dan ada juga konten hiburan, seks, mistik dan lain-lain. Pembaca banyak. Iklan banyak. Bonus banyak. Mati masuk surga. Besar, berpengaruh lagi!

Ada portal yang begitu? Ada. 10 situs berita indonesia teratas di Alexa punya semuanya. Mereka sudah menempatkan porsinya sedemikian rupa sehingga citranya sebagai portal berita tetap lebih dominan dibanding portal berita hiburan dan konten mesum.

Tapi, apakah semuanya otomatis mudah mencapai target revenue? Apakah semuanya untung? Apakah semuanya rutin bagi-bagi bonus? Belum tentu. Bisnis tak segampang itu.

Untuk membuat situs berita mirip toko serba ada, sudah pasti mereka butuh banyak karyawan, banyak sales, banyak ina inu dan itu. Intinya: banyak pengeluaran.

Kecil, berpengaruh, dan lincah

Bagi pemain baru, yang tak punya duit puluhan atau ratusan miliar, pilihan paling menarik sebenarnya bukan menjadi toko serba ada. Tapi menjadi butik dengan jumlah karyawan seperlunya, enggak ada yang lebih sering merokok atau nggosip dibanding kerja.

Dengan menjadi butik, mereka bisa menargetkan konsumen tertentu yang spesifik dan pengiklan yang spesifik pula. Lagi-lagi, berdasarkan pengalaman, hal ini sangat memungkinkan. Kebetulan, saya pernah bekerja di portal berita yang mengharamkan gosip artis, berita kriminal receh, dan hal-hal vulgar. Jumlah karyawannya pas, tak kurang dan tak lebih (walau, tentu saja, akan selalu ada orang yang menganggap kita kekurangan karyawan).

Apa yang terjadi? peringkat di Alexa jelek. Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, portal ini dibaca dari orang biasa sampai presiden. Artinya, ia berpengaruh. Suaranya didengarkan. Walhasil, brand equity-nya ikutan naik. Pengiklan pun datang. Bonus cair. Gaji karyawan termasuk tertinggi di seluruh media. Revenue nggak banyak, tapi gede dibanding rasio pengeluaran.

By the way, mungkin sebagian dari Anda sudah tahu, sebenarnya pengukur resmi situs online di Indonesia sebenarnya bukanlah Alexa, melainkan comScore. Tapi, entah bagaimana awalnya, Alexa ini masih saja sering disebut-sebut dalam pertemuan bisnis.

Kembali ke soal kecil, berpengaruh dan lincah (kayak sperma) tadi. Agaknya, formula ini pula yang akan kami pakai dalam mengembangkan Tek (juga Alinea) yang sudah dari sononya memang membahas teknologi. Tapi, tentu saja, bukan sekadar consumer tech, jauh lebih luas hingga ke digital culture. (Jangan tanya apa artinya, pokoknya begitulah).

Saya optimistis, bukan semata-mata karena melihat industri, tetapi juga melihat tren para pejabat kita yang kian doyan bicara tetek bengek yang berbau smart: smart city, smart office, smart bla bla bla bla dan smart bluh bluh bluh.

Dari pembicaraan awal dengan beberapa dari mereka, tampaknya masa depan terlihat menjanjikan. Sebelum Anda ketiduran membacanya, kita sudahi dulu untuk sekarang. Sampai bertemu lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s