Review Honda HRV Type E, Pengalaman Pemilik

Saat istri sedang mengandung, tahun lalu, kami sudah ancang-ancang untuk membeli mobil. Tujuannya agar kami bisa ke rumah sakit dengan lebih nyaman. Dan tentu, juga, ketika sang bayi lahir, kami bisa bepergian secara lebih leluasa.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli Honda HRV Type E, Desember 2016. Awalnya, saya sebenarnya naksir Ford Ecosport. Untung sekali enggak jadi beli karena ternyata Ford angkat kaki dari Indonesia.

Saya sengaja mengincar crossover karena beberapa alasan. Pertama, kami keluarga baru yang tak butuh mobil 7 seat. Kedua, sedan atau hatchback bukan alternatif menarik karena jalan di sekitar lingkungan kami kerap berlobang agak dalam. Dan lobangnya banyak.

Sebelum membeli mobil, saya sudah menonton beberapa review HRV oleh reviewer dalam dan luar negeri. Saya juga mengikuti diskusi komunitas pengguna mobil ini di KasKus. Saya sempat ragu membeli karena membaca banyak keluhan pengguna ihwal kaki-kaki HRV yang konon ringkih. Keraguan kian besar ketika membaca kisah pengguna asal Jember yang mendapat HRV cacat, dan menjadi diskusi hangat di KasKus.

Saya tetap memantapkan hati membeli HRV setelah melihatnya secara langsung di beberapa dealer di Depok dan Bogor. Dan dengan kesadaran bahwa keluhan pengguna hanya kasus pengecualian dan jumlahnya minim. Mirip seperti kasus iPhone 6 yang konon mudah bengkok.

Sudah delapan bulan berlalu. Bagaimana kesan saya terhadap Honda HRV Type E?

1. Doortrim gampang terlihat kotor.
Yap, karena belum dilapisi kulit, bagian ini rentan terlihat kotor. Apalagi kalau istri sedang dandan dan bedaknya menempel di doortrim. Membersihkannya pun tergolong susah.

2. Kaki-kaki tak pernah bermasalah.
Puji Tuhan HRV saya tak pernah mengalami masalah pada kaki-kaki, seperti laporan beberapa pengguna lainnya.

3. Kabin kurang kedap.
Ini paling terasa saat hujan deras. Walau suaranya tak seperti kaleng kejatuhan air hujan, suara tetesan hujan cukup berisik di dalam kabin. Saya lebih menyukai kesenyapan kabin Ecosport (meski belum pernah mengendarainya saat hujan).

4. Hati-hati antena radio bengkok
Antena radio saya sudah bengkok pada hari pertama mobil sampai di rumah. Bukan, bukan cacat produksi. Tapi karena saya lupa mencopotnya saat menutup mobil dengan selimut Krisbow yang berat itu.

5. Biaya perawatan relatif murah
Soal biaya pasti sudah relatif. Tapi selama delapan bulan ini, biaya servis termahal hanya 1 jutaan, tepatnya ketika servis ke-10 ribu km. Memang, jika dibanding Toyota, biaya itu tetap mahal. Kebetulan, tetangga saya juga menservis Toyota Rush Ultimo. Kata dia, biayanya hanya 380 ribu (entah benar atau tidak, saya belum cek kebenarannya ke bengkel Toyota). Biaya memelihara HRV, setidaknya hingga bulan ke-delapan ini, tak jauh beda dengan biaya yang saya keluarkan ketika punya Vespa Sprint . (Yang punya Vespa modern pasti tahu biaya pemeliharaannya yang lebih mahal dari produk Jepang).

6. Performa cukup memuaskan
Oh iya, HRV ini adalah mobil pertama saya. Sebelumnya, saya terbiasa mengendarai Nissan Grand Livina milik kakak ipar. Kesan saya, walau menggunakan CVT (yang kerap dicibir itu), performa Honda HRV Type E cukup memuaskan.

Memang, kalau butuh akselerasi cepat, kadang kita gemas karena tarikannya terasa kurang spontan. Dengan kata lain, sesuai ciri CVT, tarikannya sudah pasti halus dan mengeluarkan tenaga secara pelan-pelan. Kalau dipaksakan, misalnya injek gas poool, sudah pasti akan terjadi “rubber band effect” alias nge-lag, alias telat, alias delayed.

Sebagai reviewer smartphone, angka torsi dan power sudah pasti saya perhatikan, sebelum membeli mobil. Tenaga 120 ps dan torsi 145nm Honda Hrv sudah cukup oke untuk kondisi jalanan di Jakarta.

7. Stabil
Saya beberapa kali memacu HRV hingga kecepatan 160-170 Kpj dari arah Bogor menuju Citeureup, atau dari tol Bandara menuju tol dalam kota. Bukan ugal-ugalan. Tapi memang kondisi jalan sedang lengang. Kesan saya, HRV sangat anteng dan nyaman. Karakter shockbraker-nya yang tak terlalu lembut dan tak terlalu keras membuatnya tetap nyaman dikendarai, walau jalan tol enggak pernah 100 persen mulus dan rata. Ada gelombang di sana-sini.

8. Bumper depan ringkih
Saya tahu, bumper depan dibuat dari plastik untuk mengurangi risiko seandainya kita menabrak orang. Tetapi, bumper depan HRV terlalu lembut. Saya pernah tak sengaja nyrempet motor (padahal nyrempet dikit doang, enggak keras) dan mengenai bumper di sebelah kiri bawah. Hasilnya, pengait bumper patah, sehingga jadi renggang alias ada rongga dengan bodi.

9. Irit

Konsumi bahan bakarnya jika berjalan di tol yang lancar cukup irit. Anda bisa melihatnya di bawah ini.

BB

Secara keseluruhan, saya puas menggunakan Honda HRV Type E. Dan jadi mengerti pula, mengapa ia bisa menguasai segmen crossover di Tanah Air.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s