Kesan Saya Terhadap Samsung Galaxy S8+

“When angels fall, they also… rise” – Linda Martin dalam Lucifer

Satu dekade sesudah dunia mengenal ponsel pintar, tantangan besar menghadang produsennya: bagaimana menarik minat konsumen terhadap produk baru? Kita (nyaris) bosan, seperti kisah Squidward di Squidville. Mungkin memang tak semurung itu.

Faktanya, usia pemakaian ponsel seseorang sudah semakin pendek: antara satu sampai dua tahun. Sesudahnya, kalau tidak rusak atau lemot, ya…bosan. Artinya, selain hasrat, urusan mengganti ponsel juga terkait erat dengan kebutuhan.

Samsung pun menyadarinya ketika merilis Galaxy S8 dan S8+. Manager Produk Samsung, seperti dikutip The Verge, mengatakan “orang tak lagi antusias melihat ponsel baru.”

Itu yang saya alami saat hampir dua pekan menggunakan S8+. Jangan salah paham, bukan berarti ponsel ini jelek. Saya menyukai desainnya yang sangat enak digenggam. Layarnya jernih dan lebar, tapi terasa kecil di tangan.

Samsung menjejali S8+ dengan banyak fitur dan peranti lunak, tapi sebagian besar di antaranya sudah kita kenal sejak S6 dan S7. Jadi, saya tak akan mengulanginya lagi di ulasan ini.

Posisi Samsung ketika merilis S8+ tak bisa dibilang bagus. Mereka seperti jatuh dari singgasana keanggunan ke jurang yang teramat dalam akibat skandal Galaxy Note 7 yang gampang meledak, sampai memaksa perusahaan asal Korea Selatan itu untuk meminta maaf dan menarik seluruh produk dari pasar.

Dalam perjalanannya, kita melihat Samsung –seperti kata Dr Linda Martin dalam serial Lucifer—bangkit lagi untuk mencapai titik tertinggi.

Desain

Walau bukan yang pertama, pilihan Samsung untuk membuang kerangka layar (bezel-less) di Galaxy S8+ ternyata berbuah positif.  Layar ponsel ini jadi terasa lebih lega tanpa harus menambah ukuran bodinya. Ia terasa kecil, utamanya karena layarnya melengkung.

Jika Anda penasaran dengan detailnya, layar S8 lebih lebar 36 persen dibanding S7. Artinya, nonton video atau membaca dokumen akan terasa lebih asyik. Kompensasinya, Samsung meniadakan tombol Home yang juga berfungsi sebagai pemindai sidik jari. Tombol navigasi di S8 sudah berubah jadi virtual, yang telah lama diterapkan LG di seri unggulan mereka.

Sebagai pengganti, Samsung memindahkan pemindai sidik jari ke bagian belakang, tepat di samping kamera. Entah karena belum terbiasa, saya tak begitu suka dengan hal tersebut. Jari saya sering salah memencet lensa kamera saat hendak membuka kunci layar. Kalaupun tepat di pemindai, reaksinya tak secepat yang saya kehendaki.

Kebetulan, saya menguji S8+ bersamaan dengan ASUS ZenFone Zoom S. Sensor ZenFone Zoom S jauh terasa lebih cepat dan akurat.

Catatan lain, seperti sudah saya sebutkan ketika mengulas S6 Edge dan S7 Edge, saya masih tetap tak terbiasa menggunakan aplikasi di Edge Screen.

Tak bisa dimungkiri, layar Samsung Galaxy S8+ termasuk paling enak dilihat. Gambarnya tajam dan warnanya kaya sehingga foto jadi terlihat lebih bagus. Khusus untuk foto, saya lebih menyukai pengaturan warna iPhone karena Samsung cenderung berlebihan saturasi. Walhasil, kualitas foto akan terlihat berbeda ketika dilihat di perangkat lain, termasuk laptop.

Bixby

Semua ponsel Android yang menjalankan Android Nougat, termasuk S8+ sudah memiliki Google Assitant. Selain itu, masih ada Google Now. Keduanya sangat membantu pengguna Android dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, memberitahu kondisi lalu lintas sekitar, inforamsi mengenai tempat yang kita kunjungi dan lain-lain.

Namun rupanya hal itu tak menghalangi Samsung untuk membuat asisten pribadi virtual yang mereka sebut Bixby. Saya tak bisa berkomentar banyak mengenai fitur tersebut karena Samsung belum berilis versi finalnya. Bixby yang terdapat di S8+ tak punya keistimewaan dibanding dua layanan Google. Ia hanya menyajikan kartu-kartu informasi, termasuk berita dari beberapa situs. Kita masih harus menunggu untuk memberi penilaian final, tetapi yang jelas, sejauh ini, saya tak terkesan dengan Bixby. Dan tidak, itu bukan lawan Siri.

Baterai

Samsung Galaxy S8+ menggunakan baterai yang sama dengan pendahulunya. Sejauh ini, belum ada laporan masalah terkait baterai tersebut. Dalam pengujian, saya cukup puas pada daya tahannya.

Sebagai contoh, walau selalu mengaktifkan Spotify saat perjalanan menuju kantor, membuka media sosial, website dan menonton film di Hooq, saya rata-rata hanya mengisi ulang baterai S8+ sekali sehari. Baterainya mampu bertahan rata-rata 10 jam. Saat diuji dengan PCMark, baterai S8+ bahkan bisa bertahan hingga 12 jam 4 menit.

Kamera

Satu hal yang selalu saya suka dari seri Galaxy S adalah performa kameranya, terutama kecepatan fokus dan jepretan.

Kecak
Hasil foto di kondisi low light cukup memuaskan

Ini sangat saya butuhkan sebagai jurnalis karena kerap memotret acara yang objek fotonya bergerak dinamis. Anda akan langsung bisa merasakan keunggulannya dibanding ponsel lain di level menengah-bawah, termasuk yang mengklaim diri sebagai Phone Camera.

Mom n Kiddie 1
Saya memotret ini dalam kondisi sedikit backlight

Yang menarik, Samsung tak genit mengikuti tren dual-camera. Walau begitu, saya tak pernah kecewa pada hasil fotonya baik dengan kamera belakang atau kamera depan untuk selfie.

Kid
Efek kamera seperti filter pada Snapchat dan Instagram

Saya juga menyukai fitur Filter yang ditambahkan Samsung ke Galaxy S8+. Pengguna Instagram dan Snapchat pasti sudah akrab dengan fitur semacam ini. Ia cukup menyenangkan digunakan, terutama saat memotret objek menggemaskan, seperti anak kecil.

Fitur keamanan

Selama pengujian, saya mengaktifkan sensor biometrik dan pengenal wajah di Galaxy S8+ dan sama sekali tak menemui kendala. Satu-satunya yang sering bikin saya jengkel hanya sensor pemindai sidik jari.

Kesimpulan

Jika Anda penggemar Android dan atau Samsung, Galaxy S8+ tetap salah satu yang terbaik untuk dimiliki. Anda akan mendapatkan ponsel dengan desain istimewa, enak digenggam, kamera bagus, baterai cukup, dan layar yang keren. Tapi, jangan terlalu berharap pada Bixby atau sesuatu yang luar biasa. Itu wajar, kita memang sudah (nyaris) bosan.

Oh ya, hari terakhir bersama smartphone ini, saya tak sengaja menjatuhkannya dari kantong kemeja depan. Kaca belakangnya retak. Jadi, berhati-hatilah.

 

Disclaimer: Artikel ini sebelumnya dimuat Metrotvnews.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s