Vespa Sprint Setelah 13 Ribu KM

Pekan lalu, saya bersama kawan dekat, touring dari Jakarta ke Bandung. Saya naik Vespa, sedangkan dia menunggangi Kawasaki Z250. Ini bukan kali pertama karena sebelumnya kami pernah juga touring ke Puncak.

Seperti hobi yang lain, touring ternyata juga punya sensasi sendiri yang membuat orang kecanduan. Dulu saya pikir touring hanya bikin capek, ternyata sesudah menjalaninya asyik juga.

Namanya juga touring, biasanya ritme memacu kendaraan berubah-ubah agar tidak bosan dan mengantuk. Kadang-kadang melaju dengan kecepatan 60Kpj, beberapa saat selanjutnya bisa juga 100-115Kpj.

image

Touring jarak pendek –sekitar 170KM– dengan Vespa cukup mengasyikkan. Apalagi, kami berangkat pukul 22.00WIB, cuaca cukup dingin, sehingga tak terlalu menguras tenaga. Sahabat saya juga tak bosan karena Z250 tak selalu harus lambat agar saya tak ketinggalan jauh. Sesekali, menggebernya sampai 100-115Kpj sudah cukup asyik di jalan umum.

Satu hal yang saya refleksikan sesudah mengendarai Vespa Sprint hingga 13 ribu km adalah, biaya pemeliharaannya relatif mahal bila dibandingkan dengan motor sekelasnya dari pabrikan Jepang. Mungkin karena itu pula, banyak pemilik Vespa yang betul-betul hanya memakainya tiap akhir pekan, sedangkan hari kerja mereka memilih naik matic Jepang.

Kesimpulan ini saya dapat sesudah berkali-kali mendengarnya dari pemilik Vespa kala antre servis di bengkel. Bahkan, pernah ada orang yang memiliki Vespa selama 4 tahun, tetapi odometer belum sampai 1000Km.

image

Mengapa saya sebut relatif mahal?
Biaya servis Vespa memang lebih mahal dari matic Jepang yang 150cc sekalipun. Kedua, pada jarak tempuh yang sama, sepertinya onderdil Vespa lebih cepat rusak dibanding matic Jepang.

Di Vespa Sprint, saya sudah servis komstir sekali karena bearingnya hancur. Pekan ini, saya juga harus ganti engine mounting karena ancur. Posisi mesin Vespa Sprint yang tidak dipeluk rangka, membuatnya lebih mudah dicopot, tetapi engine mountingnya juga cepat rusak.

Jika tidak diganti, Vespa akan terasa oleng saat melintasi jalan tak rata atau ketika berbelok. Tetapi, hobi memang ada harganya. Kepuasan batin, kebahagiaan, tak selalu bisa dihitung dengan duit.

Walau pemeliharaannya relatif mahal, saya masih mencintai Vespa Sprint.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s