3 Alasan untuk Tak Berwisata ke Pulau Belitung

Sejujurnya, seumur hidup saya tak pernah mendengar ada yang menarik dari Pulau Belitung. Namanya, kalau tak salah ingat, hanya muncul sekali atau dua kali di ujian Ebtanas, tentang daerah penghasil Timah. Pulau ini juga tak pernah menghiasi berita utama di media nasional karena, ya, memang enggak ada yang menarik.

Tapi semua berubah tatakala putra asli Belitung, Andrea Hiratamerilis magnum opus-nya, Laskah Pelangi. Novel yang terjual jutaan copy dan diangkat ke layar lebar itu telah membuka mata jutaan orang Indonesia bahwa di dunia ini ada yang namanya Pulau Belitung, dan, yang terpenting, pantainya indah.

Pada 17-19 Februari 2016, saya berkesempatan mengunjungi Pulau Belitung bersama rombongan wartawan dari seluruh Indonesia dalam acara media gathering yang digelar XL Axiata.

Sesaat sebelum mendarat di Bandar Udara H.A.S Hananjoeddin, Tanjung Pandan, saya iseng-iseng memperhatikan kondisi Belitung dari atas pesawat. Kesan saya, pulau ini bernasib malang. Seperti gadis yang diperkosa asal-asalan, walau untungnya, kondisinya sudah mulai tahap pemulihan.

Di sana sini terlihat lubang bekas tambang menganga. Ya untungnya menganga tak dalam kondisi kering karena sebagian sudah berubah menjadi danau, yang sayangnya, tak bisa dijadikan kolam renang. Pemandangan yang juga dominan adalah kebun kelapa sawit.

Begitu mendarat dan keluar dari bandara menaiki bus, saya perlahan-lahan mulai menyukai Belitung. Jalannya mulus, walau relatif sempit dibanding jalan di pulau Jawa. Selain itu, juga relatif sepi. Saya tak pernah melihat ada bus angkutan pedesaan atau angkutan umum melintas atau berpapasan dengan bus yang kami naiki.

Belakangan, saya baru mengerti bahwa di Pulau Belitung ternyata tak ada kendaraan umum. Tour guide kami mengatakan, hampir semua rumah tangga di Belitung memiliki sepeda motor atau mobil untuk bepergian.

“Dan orang sini kalau parkir motor, kuncinya sering enggak dicabut. Aman. Soalnya pulau,” katanya.

Melihat kondisi jalan yang mulus dan relatif sepi, hal pertama yang melintas di kepala saya adalah, Pulau Belitung sangat cocok untuk klub motor yang ingin touring jauh. Jangan ke Bali melulu bro, sudah terlalu mainstream, hehehe. Tapi serius, pasti sangat seru mengelilingi Pulau Belitung dengan naik motor, ya kalau tidak dengan klub, minimal sendiri atau bersama pasangan.

Dari informasi yang saya terima, biaya penyewaan sepeda motor saat ke belitung realtif murah, hanya Rp50 ribu sampai Rp80 ribu per hari. Atau, ya mentok-mentok Rp100 ribulah. Saya sendiri sempat berkhayal, andai aku bisa bawa Vespa ke sini, pasti indah sekali, hehehe.

Karena memang tak memiliki riwayat sebagai daerah tujuan wisata, jangan berharap banyak  akan fasilitas lengkap di Pulau Belitung. Termasuk, misalnya, berharap ada atraksi budaya, museum, atau pantai yang dikelola secara serius.

Jpeg
Museum Kata Andrea Hirata

Kesan saya, pariwisata di daerah ini baru mulai terangkat sesudah buku Laskar Pelangi meledak di pasar.

Jpeg
SD Muhammadiyah Gantung, Laskar Pelangi

Karena itu, sudah menjadi template bagi tour guide setempat untuk membawa pelancong ke desa Gantung, tempat kelahiran Andrea Hirata dan lokasi syuting Laskar Pelangi.

Jpeg
Warung Kopi di Museum Kata Andrea Hirata

Rombongan kami sendiri memilih Museum Kata Andrea Hirata sebagai persinggahan pertama. Sebetulnya, yang menarik dari museum ini, menurut saya, adalah warung kopi kecil di bagian belakang. Kopinya enak dan nendang. Selain itu, kita tentu tahu, Andrea tak menawarkan koleksi barang-barang langka, tetapi dia ingin berbagi inspirasi agar anak-anak Belitung berani bermimpi dan mengejar mimpi. Salut!

Jpeg

Sesudah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lengkuas dan pulau-pulau lain yang ada di sekitarnya, termasuk Pulau Pasir menaiki perahu nelayan. Saya cukup terkesan dengan kondisi pantai yang raelif terawat dan membuat kita tak sabar pengin nyemplung berenang. Airnya jernih dan tak dalam.

Sayangnya, ketersediaan warung masih cukup terbatas. Jadi kalau tiba-tiba kehausan saat berjemur di pantai, urusannya bisa repot. Karena itu, jangan lupa membawa cadangan air minum yang banyak.

Kondisinya belum terlalu ramai, menurut saya, justru membuat pantai-pantai di Pulau Belitung lebih menarik. Bagi kita yang biasa melihat kerumunan orang di Jakarta, kondisi tenang dan damai adalah surga kecil, hehehe. Suatu saat, saya ingin kembali lagi ke Pulau Belitung, dan akan mengelilinginya dengan sepeda motor.

Kami tak banyak menjelajahi kota. Tapi, jika tertarik beli oleh-oleh, kita bisa membelinya di beberapa toko. Salah satu restoran yang konon wajib dikunjungi saat ke Belitung adalah Mie Atep. Penampilannya seperti mie tek-tek di Jakarta. Tapi rasanya lumayan enak. Satu porsi kurang, dua porsi kebanyakan.

Jpeg
Mie Belitung Atep

Kepada teman-teman sekalian, menurut saya, hanya ada tiga alasan untuk tak berwisata ke Belitung:

  1. Tidak punya uang
  2. Tidak punya waktu
  3. Tidak punya uang dan tidak punya waktu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s