Touring ke Puncak dengan Vespa Sprint

Walau sudah setahun lebih mengendarai Vespa Sprint 3V i.e, saya baru sempat mengajaknya jalan-jalan ke Puncak, Bogor, sebanyak dua kali. Ya, ini rute standarlah buat penggemar motor berbagai tipe. Untuk teman-teman yang sudah pernah ke puncak saat akhir pekan pasti sudah tahu, jalur ini tergolong padat dan ramai sejak hari Jumat malam.

Rombongan kami yang hanya terdiri-dari 4 orang tersebut, berangkat pada 23 Januari lalu. Hanya saya yang mengendarai Vespa, sedangkan teman-teman yang lain menggeber Satria 2 Tak,  Honda CS One dan Kawasaki Ninja Z250. Kombinasi gado-gado ini cukup menarik karena kami memang disatukan oleh pertemanan bukan hobi motor.

Walau tergolong kelompok kecil, perjalanan cukup menyenangkan. Kami bertemu banyak kelompok lain saat berhenti di pom bensin Shell, Bogor. Mereka orang-orang ramah dan asyik.

Kebetulan, siang hari sebelum touring itu, saya baru saja memasang knalpot Pro Speed Black Series di Vespa Sprint. Harganya cuma Rp1,9 juta. Suaranya biasa saja dan terdengar cukup “terpendam” karena DB Killer tidak saya copot. Raungannya baru sedikit terasa saat kecepatan 80KPJ ke atas. Itu pun masih kalah bising dari knalpot motor matic Jepang yang dibobok. Suaranya baru terdengar “agak-agak lumayan” saat DB Killer dicopot.

Tapi saya cukup puas dengan performanya. Menurut perasaan saya, tenaganya jadi bertambah sedikit. Saat sedang bosan, dan kebetulan jalan raya bogor agak sepi, kami memelintir gas masing-masing. Tentu saja, saya berada di urutan belakang, sekali-sekali urutan tiga. Iseng-iseng melirik speedometer, Vespa bisa diajak lari hingga 117KPJ dalam jarak yang tak terlalu jauh. Sebelumya, untuk mencapai 110KPJ saja butuh keberuntungan dan track panjang.

Sejauh ini saya belum berencana mengoprek mesin standar pabrik karena memang Vespa ini saya pakai untuk santai . Lagipula, jalan Jakarta yang macet lebih membutuhkan motor yang nyaman dipakai.

Namun, karena kilometer sudah memasuki 10 ribuan, sesuai buku petunjuk, dan saran mekanik SHD di Kemang, sudah saatnya mengganti V-Belt. Saya masih mikir-mikir, apakah akan memakai yang standar atau buatan Pollini, Malossi. Ada saran?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s