Jadi tujuh

TIGA bulan sudah berlalu sejak kami merilis tek.id versi beta. Secara pribadi, saya sebagai Editor In Chief belum puas dengan apa yang sudah kami buat saat ini. Akan tetapi, saya senang kami berjalan sesuai dengan rencana. Masa beta ini kami manfaatkan untuk bereksperimen dalam berbagai hal: dari ritme kerja tim, gaya artikel, topik yang dibahas, sampai dengan implementasi gagasan-gagasan yang baru muncul di tengah jalan.

Dan yang terpenting, masa beta ini juga kami manfaatkan untuk mendengar kritik, masukan, dan saran dari berbagai pihak. Saya mengucapkan terima kasih atas teman-teman yang sudah memberi masukan penting yang jauh dari sekadar basa-basi.

Memasuki tahun 2018, kami memiliki sejumlah rencana yang secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu pengembangan konten dan pengembangan bisnis.

Sejak dari dalam pikiran, saya tak pernah menempatkan tek.id sebagai blog teknologi atau situs berita yang fokusnya hanya satu: a shiny new object, meminjam istilah jurnalis kawakan Kara Swisher. Karena itulah, tek.id punya menu Culture, Future, TekTalk, dan Insight. Saya terinspirasi Walt Mossberg, juga Joshua Topolsky. Saya percaya, membicarakan “objek baru” tidaklah lebih penting dibanding membicarakan ide di balik objek tersebut dan juga sang pencetus ide, serta bagaimana masyarakat memanfaatkan objek tersebut.

Cara pandang ini turut menyadarkan saya di kemudian hari bahwa agak susah mencari rekan kerja yang punya minat sedemikian luas. Jurnalisme teknologi di Indonesia terlalu fokus pada a shiny new object tadi. Dalam beberapa diskusi, rata-rata rekan-rekan dengan pengalaman kerja sampai 5 tahun hanya merasa ahli dalam hal gadget, namun kurang berminat atau kurang akrab dengan hal semacam transformasi digital, influencer marketing, marketing strategy, profile, atau ide di balik ide besar macam smart city dan smart smart lainnya. Atau ada yang merasa ahli soal game dan esports, tetapi agak gagap membicarakannya dari kacamata ekonomi digital.

Walau demikian, saya masih optimistis bahwa tak ada kata terlambat untuk memulai segala hal. Kami memanfaatkan kekurangan dan kelebihan masing-masing untuk saling melengkapi, dan bersama-sama mempelajari hal-hal baru.

Beberapa rekan dan juga pembaca sudah menanyakan hal-hal praktis, seperti di bawah ini:

  1. Apakah tek.id juga akan membuat konten video?
  2. Apakah tek.id akan me-review perangkat di luar gadget?
  3. Oh, ternyata tek.id ada review film juga ya?
  4. Kapan launching tek.id?

Terhadap pertanyaan 1-3, jawabannya adalah iya. Adapun jawaban untuk nomor 4 adalah Q1 2018.

Terkait dengan rencana launching (atau Grand Launching) yang sudah dekat itu, kami bergegas membenahi beberapa hal. Untuk pengembangan konten, misalnya, mengharuskan kami untuk menambah personil dengan komposisi 1 editor dan 2 reporter. Sementara untuk mengembangkan bisnis, kami butuh rekan yang dedicated mengurusi bisnis.

Pengembangan konten akan fokus pada jurnalisme data, termasuk di dalamnya pengolahan Big Data terkait dengan topik-topik teknologi di Tanah Air. Dalam jangka panjang, kami berencana mengembangkan jurnalisme data ini ke tahap lebih tinggi dengan menggandeng sister company tek.id.

Dengan demikian, mulai Januari 2018 nanti, redaksi tek.id akan bertambah. Jadi tujuh.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s