Mengapa Kita Tak Butuh Portal Berita Teknologi Baru?

Fragmen I

Barangkali terdengar lebay: perasaan saya campur aduk ketika mengetahui Majalah CHIP dan CHIP Online berhenti terbit, awal tahun ini. Ia menyusul Majalah Forsel dan tabloid PC Plus yang sudah mangkat duluan (juga PC Gamer, kalau tak salah ingat). Nasib tabloid Sinyal sedikit lebih baik karena mendapat pertolongan di masa genting, seperti Amenadiel menyelamatkan Malcolm Graham –di serial Lucifer yang tayang eksklusif di HooQ– lalu membuatnya menjadi baru. Tak lama berselang, menyusul pula beberapa media teknologi lainnya, seperti Techno.id.

Bukan pada tempatnya untuk menceritakan alasan di balik perasaan campur aduk itu. Yang jelas, saya jadi sadar bahwa perubahan bisa menggilas siapa saja yang tak sanggup menyesuaikan diri, baik pemain lama maupun baru. Saya tak tahu persis apa yang terjadi, tetapi pada umumnya, bisnis hanya runtuh oleh dua hal: rugi dan rugi.

Ya, tentu saja penjelasan itu tak memuaskan. Kita bisa menyusun daftar pertanyaan yang lumayan panjang, misalnya, mengapa rugi? bukankan namanya sudah melegenda? Kok, enggak beralih ke online saja? dst dst.

Itu wajar saja. Apalagi, sejumlah media yang didirikan alumnus CHIP dan CHIP Online nyatanya masih bertahan, setidaknya sampai tulisan ini dibuat.

Fragmen II

Penyebaran koneksi internet, pengguna telepon genggam pintar yang terus naik, dan media sosial adalah trinitas yang sukses melahirkan makhluk baru bernama influencer alias Key Opinion Leader atau apa pun lah, pokoknya begitu. Mereka kini memegang peranan penting untuk memengaruhi opini orang melalui berbagai medium: YouTube, Instagram, Facebook, Twitter dan lain-lain. Pengikutnya ribuan, ratusan ribu sampai jutaan.

Latar belakangnya juga sangat beragam, dari emak-emak rumah tangga, wartawan, pesohor, anak kecil, sampai orang enggak penting. Dan yang pasti, penghasilannya dari iklan adsense dan promosi produk akan membuat banyak orang iri.

Khusus di bidang media teknologi, kita sudah punya banyak YouTuber kondang dengan tarif jutaan sampai puluhan/ratusan juta. Beberapa di antaranya bahkan rela resign dari perusahaan mapan untuk menjadi full time YouTuber dengan penghasilan jauh lebih menarik. Beberapa pemegang merek rela antre membayar menggunakan jasa mereka ini.

Hikmahnya, ternyata industri tidak sedang hancur. Masih ada denyut kehidupan. Jadi, jika sebuah media teknologi tutup, penyebabnya bukan karena industri pendukungnya hancur.

Fragmen III

Dulu waktu kecil, saudara-saudara yang sudah dewasa kerap bertanya: kalau sudah gede mau jadi apa? apa pun jawaban saya, mereka akan mengatakan: “Ngapain jadi, … (cita-cita yang saya sebutkan), sudah banyak.” Contohnya: ngapain jadi bupati, bupati sudah banyak. Akhirnya, karena putus asa, saya kadang menjawab: “Yaudah, pengin jadi Tuhan.”

Pernyataan/pertanyaan (dari diri sendiri dan orang lain) semacam ini kembali saya hadapi baru-baru ini, tepatnya saat berpikir untuk kembali membuat portal berita teknologi. Ia muncul di urutan teratas, sebagaimana bisa dilihat di bawah ini:

  1. Ngapain bikin portal berita teknologi? Sudah banyak kan?
  2. Apa bedanya dengan yang lain? Mau media seperti apa pun sudah ada kok.
  3. Susah nyari duitnya. Enakan jadi influencer.
  4. Media besar yang udah melegenda saja tutup, yakin portal baru enggak akan pingsan sebelum ke mana-mana?
  5. Yaaaaa…bisa aja sih dibikin, tapi kuat berapa lama bertahan?
  6. Nyari duitnya gimana caranya?

Saya jadi ingat artikel Lois Lane di The Daily Planet yang membuatnya berhasil meraih penghargaan Pulitzer. Judulnya: “Why the world doesn’t need superman?”.

Artikel itu berisi kritik (dengan nada merintih?) Lois terhadap Superman yang hilang tanpa berita selama 5 tahun. Lois tak tahu bahwa Superman melanglangbuana mencari sisa-sisa ledakan Planet Krypton, walau kembali dengan tangan hampa.

Penggemar Superman pasti sudah tahu jawabannya. Ironi sangat besar kemudian terjadi, semalam sebelum Lois menerima penghargaan Pulitzer. Superman membawanya terbang di atas rooftop The Daily Planet, mempertanyakan argumen Lois dengan kalimat yang bisa Anda lihat di bawah ini.

Pada ujungnya kita tahu, dunia diselamatkan Superman dari kehancuran akibat ulah Lex Luthor, dan Lois menerima penghargaan jurnalistik untuk argumen bahwa dunia tak membutuhkan Superman.

Dan itu pula yang ingin saya tulis sembari berharap akan mengalami “momen Lois Lane” saya sendiri. Saya setuju dengan pendapat Anda yang ragu dan mengajukan 6 pertanyaan di atas. Tetapi, saya akan maju untuk membuktikan bahwa saya salah.

Sekali lagi, mengutip dialog Superman dan Lois:

Superman: Listen? What do you hear?

Lois: Nothing

Superman: I hear everything. You wrote that the world doesn’t need a savior, but everyday i hear people crying for one.

 

(Sumber foto: wearebeem.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s