BTS Merah Putih, Wujud Nyata Penjaga Kedaulatan Negeri

Salah satu pendiri bangsa kita, Soekarno, gemar membuat jargon nasionalisme. Salah satu ucapannya yang terkenal, misalnya, “Ini Dadaku, Mana Dadamu”. Pemerintah kita juga acap kali membuat slogan untuk memperkokoh soliditas kita sebagai bangsa. Yang senantiasa kita dengar tiap tahun, khususnya jelang peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus, adalah “NKRI Harga Mati”. Adakah nasionalisme dalam wujud lain yang bisa kita pahami dan rasakan dengan lebih mudah?

Pada akhir Agustus 2016 lalu, saya berkesempatan menyaksikan peresmian salah satu Base Transceiver Station (BTS) Merah Putih milik operator telekomunikasi Telkomsel di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di depan kampus Universitas Tribuana Kalabahi. Bagi kita yang tinggal di Pulau Jawa ini mungkin hanya seremonial biasa karena apa istimewanya sebuah BTS?

Namun, apa yang bagi penduduk Pulau Jawa sudah terlalu biasa, ternyata terasa bagai mimpi menjadi kenyataan bagi warga Alor. Mereka, utamanya mahasiswa dan civitas akademika Universitas Tribuana Kalabahi, menyambut peresmian BTS Merah Putih tersebut dengan sangat meriah. Pasalnya, BTS yang memancarkan sinyal 3G dan 2G tersebut merupakan pintu gerbang mereka untuk terhubung dengan masyarakat dunia melalui jaringan internet. Para mahasiswa juga bisa mengakses ilmu pengetahuan dari sumber yang maha-luas.

Sebelum kehadiran BTS Merah Putih Telkomsel, warga di Kabupaten Alor terpaksa pergi ke atas bukit demi mendapatkan pancaran sinyal 3G, itu pun sinyalnya putus-putus. Sebagai informasi, di Pulau Alor, hanya Telkomsel yang bersedia menggelar layanan.

Apa itu BTS Merah Putih dan mengapa dinamai demikian?

2
BTS Merah Putih Telkomsel di Kabupaten Alor

Banyak negara dan perjanjian internasional yang menyebutkan bahwa akses terhadap layanan komunikasi dan informasi masih tercakup dalam dimensi hak dasar manusia yang harus dipenuhi.

Dengan semangat itulah, Telkomsel sebagai Badan Usaha Milik Negara dan operator telekomunikasi terbesar di Indonesia terus membangun apa yang mereka sebut sebagai BTS Merah Putih.

Penjelasan sederhananya, BTS Merah Putih adalah BTS yang dibangun Telkomsel dengan lebih mengutamakan aspek manfaat bagi masyarakat –termasuk perkembangan ekonomi dan lain-lain– ketimbang sisi komersial.

Bahkan, di banyak tempat, BTS Merah Putih sama sekali tak layak secara bisnis, alias pasti rugi. Misalnya, di pulau terdepan yang minim penduduk.

Walau demikian, Telkomsel seperti menutup mata dan tetap memelihara, bahkan menambah jumlah BTS Merah Putih tersebut. Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan, sampai saat ini, Telkomsel telah mengoperasikan 627 BTS yang berlokasi di perbatasan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Timor Leste, Australia, Filipina, dan Papua Nugini.

Dari 627 BTS yang berbatasan langsung dengan tujuh negara tetangga tersebut, 148 di antaranya merupakan BTS 3G yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam mengakses layanan data.

Dari seluruh BTS Telkomsel di perbatasan negara, 16 BTS berlokasi di Batam dan Bintan yang berbatasan dengan Singapura; 202 BTS berbatasan dengan Malaysia di Dumai, Rokan, Bintan, Karimun, Anambas, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sumatera bagian Utara, Rokan Hilir; 63 BTS di Natuna dan Anambas berbatasan dengan Vietnam, 173 BTS di Nusa Tenggara Timur berbatasan dengan Timor Leste; 64 BTS di Pulau Rote dan Maluku berbatasan dengan Australia; 70 BTS di Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina; dan 39 BTS di Papua bagian Timur berbatasan dengan Papua Nugini.

3
Pantai di Kabupaten Alor tergolong masih “perawan”. Saya dan Vice President Corporate Communication Telkomsel, Adita Irawati.

Tentu saja, tak semua BTS tersebut menimbulkan kerugian, tetapi juga tak terlalu menguntungkan. Pemerintah sendiri telah berkomitmen mensubsidi BTS Merah Putih, meskipun pencairan dananya tak selalu mulus karena perbedaan pendapat dengan DPR.

“Telkomsel telah membangun 627 BTS di perbatasan, ini sangat dibutuhkan masyarakat kita, tidak hanya untuk komunikasi dan mengembangkan ekonomi, tapi menjaga kedaulatan Negara Kedaulatan Republik Indonesia,” kata Ririek.

Kalimat berbau nasionalisme itu amat jarang terdengar dari eksekutif operator lain. Seluruh operator lebih suka bertempur di Pulau Jawa atau Sumatera yang padat penduduk. Pertimbangannya sudah pasti bisnis semata.

Padahal, kegiatan semacam pembangunan BTS Merah Putih seperti yang dilakukan Telkomsel sejatinya sudah diatur melalui Universal Service Obligation (USO). Untuk pemerataan akses komunikasi, pemerintah mewajibkan operator telekomunikasi untuk menyisihkan 1,25 persen dari total omzet mereka untuk USO. Sayangnya, implementasi USO tak berjalan lancar hingga akhirnya dihentikan sementara oleh Kominfo pada tahun lalu.

Di Pulau Alor, yang berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa dan dekat dengan Timor Timur, misalnya, Telkomsel membangun 70 BTS, yang 20 di antaranya sudah menyediakan akses data 3G. Telkomsel adalah satu-satunya operator yang berkomitmen “memonopoli” daerah kecil ini sampai sekarang.

“Keberadaan BTS di perbatasan sangat penting, walaupun tidak mudah. Perbatasan negara dan provinsi sering dianggap halaman belakangan rumah, sehingga paling terakhir dipikirkan. Kalau negara tetangga kita sebaliknya, itu etalase, sehingga akan sangat kontras kondisinya,” kata Ririek.

Komitmen Telkomsel terhadap pulau terdepan dan terpencil di nusantara, secara nyata merupakan wujud penjaga kedaulatan bangsa yang layak diapresiasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s